Sistem Pendidikan Belanda dan Indonesia

Posted in Edisi 2, Utama on February 6th, 2010 by jong – Be the first to comment

p10101791Indonesia merupakan negara bekas jajahan Belanda. Maka, tidaklah mengherankan bila Indonesia mewarisi banyak peninggalan budaya Belanda seperti pada arsitektur bangunan, perbendaharaan kata dalam bahasa, makanan, hingga sistem hukum. Namun dalam perkembangan sampai saat ini, sistem pendidikan Indonesia dan Belanda berbeda karena Belanda memiliki sistem khusus yang membuatnya berbeda dengan sistem pendidikan di Asia, Amerika dan bahkan di Eropa.

 

Sistem pendidikan Indonesia

Sistem pendidikan Indonesia diatur dalam Undang-undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003. Disebutkan dalam UU tersebut bahwa usia wajib belajar di Indonesia dimulai sejak 6 hingga 15 tahun dan pemerintah pusat serta pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan.

Jalur pendidikan di Indonesia terdiri atas pendidikan formal, non-formal dan informal. Yang dibahas dalam artikel berikut hanyalah sistem pendidikan formal. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Jenis pendidikan yang diajarkan meliputi pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan dan khusus.

Sejak usia 5 tahun, anak dapat mengikuti pendidikan formal pada Taman Kanak-kanak (TK) maupun pada Raudatul Athfal (RA). Pasal 17 UU tersebut menyebutkan bahwa pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Masdrasah Ibtidaiyah (MI), lalu dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dalam pasal 18, pendidikan menengah merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Setelah pendidikan menengah, ada jenjang pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor (pasal 19).

Sistem pendidikan Belanda

Salah satu perbedaan sistem pendidikan Belanda adalah penjurusan yang dimulai sejak pendidikan tingkat dasar dengan mempertimbangkan minat dan kemampuan akademik siswa. Secara umum, sistem penjurusan tersebut terbagi menjadi: (1) pendidikan tingkat dasar dan lanjutan, (2) pendidikan tingkat menengah kejuruan, dan (3) Pendidikan tingkat tinggi.

 

 Pendidikan tingkat dasar dan lanjutan

Usia wajib belajar di Belanda dimulai sejak usia 5 tahun hingga 18 tahun. Untuk program wajib belajar ini, pemerintah menyediakan dana sehingga para siswa dibebaskan dari beban biaya sekolah. Sekolah dasar (basisschool) di Belanda berkisar selama 8 tahun. Lalu siswa bisa melanjutkan ke pendidikan lanjutan sejak usia 12 hingga usia 18 tahun. Pendidikan lanjutan ini terbagi menjadi beberapa program:

VMBO (Voorbereidend 1. Middelbaar Beroepsonderwijs)

Program 4 tahun ini memberikan pendidikan yang merupakan gabungan dari pendidikan umum dan kejuruan. Lulusannya bisa melanjutkan ke pendidikan tingkat menengah kejuruan (Midelbaar Beroepsonderwijs/MBO).

HAVO (Hoger Algemeen 2. Voortgezet Onderwijs)

Program 5 tahun ini memberikan akses langsung ke pendidikan tingkat tinggi yaitu ke Hoger Beroepsonderwijs (HBO/university of profesional education). Dua tahun terakhir dalam HAVO merupakan tahun penjurusan untuk memilih bidang pilihan mereka. Siswa lulusan HAVO dapat melanjutkan studinya ke VWO apabila mereka ingin melanjutkan ke universitas. Akan tetapi, mereka harus menambah tahun pelajaran sehingga jangka waktunya menjadi lebih lama dibandingkan dengan langsung ke program VWO.

VWO (Voorbereidend 3. Wetenschappelijk Onderwijs)

Program 6 tahun ini juga memberikan akses langsung ke pendidikan tingkat tinggi (universitas). Tiga tahun terakhir dalam VWO merupakan tahun penjurusan untuk memilih bidang pilihan mereka.

Penjurusan dalam HAVO dan VWO terbagi menjadi:

  1. Ilmu teknologi dan fisika 1. (techniek en natuur)
  2. Ilmu kesehatan ( natuur en 2. gezondheid)
  3. Ilmu sosial ekonomi ( economie 3. en maatschappij)
  4. Ilmu sosial dan budaya ( cultuur 4. en maatschappij)

Pendidikan tingkat menengah kejuruan

MBO diberikan dalam beberapa jurusan, antara lain ekonomi, teknik, kesehatan, perawatan, kesejahteraan, dan pertanian. Program MBO diberikan dalam 4 tingkatan (1-4 tahun) dan hanya lulusan dari tingkat 4 MBO saja yang dapat memiliki akses ke HBO.

Pendidikan tingkat tinggi

Pendidikan tingkat tinggi di Belanda terdiri atas 2 bagian, yaitu HBO (sekolah tinggi/institut) dan WO (universitas). HBO memberikan pendidikan yang bersifat siap guna untuk siswa yang ingin langsung terjun ke dunia professional dan praktis, sedangkan universitas memberikan pendidikan yang bersifat spesifik/penjurusan berdasarkan ilmu-ilmu murni. Pada setiap tahun pertama HBO/WO ada penyaringan yang disebut dengan masa propedeuse. Dalam proses ini, setiap siswa wajib menyelesaikan mata pelajaran tahun pertama mereka dan waktu dua tahun. Jika siswa tersebuut gagal, maka dia akan dikeluarkan dari jurusan (Drop-out/DO).

Sejak tahun 2002, pemerintah Belanda memberlakukan sistem pendidikan tingkat tinggi baru. Pada sistem baru ini, pendidikan tingkat tinggi dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu Bachelor dan Master (BAMA) serta tingkat doktoral (Ph.D.).

Walaupun menurut peraturan tersebut lulusan dari HBO maupun WO mempunyai gelar yang setara, ada beberapa perbedaan yang mencolok antara kedua institusi tersebut dalam penerapan sistem BAMA dan Ph.D. (lihat tabel).

Sedangkan gelar Ph.D hanya bisa diperoleh melalui program di WO. Lulusan program Bachelor dari HBO yang ingin memasuki program magister di WO wajib memasuki 1 tahun persiapan di WO (pre-master) sebelum memulai program dengan jurusan yang sudah dipilih, atau mengambil program pre-master WO dalam masa studi minor HBO di tahun ketiga/keempat. Hal tersebut juga berlaku bagi lulusan program magister dari HBO yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat Ph.D. di WO. ***

 

HBO

WO

Bachelor Degree diperoleh setelah menyelesaikan pro­gram di HBO den­gan mengumpulkan kredit sebanyak 240 European Credit Transfer System (ECTS) selama 4 tahun. Lulusan pro­gram ini hanya ber­hak menggunakan titel Bachelor yang berkaitan dengan jurusannya.

Contoh: Ingenieur, Bachelor of Engi­neering (B.Eng.), Bachelor of Nursing, dan lain-lain.

Bachelor Degree diperoleh setelah menyelesaikan pro­gram di universitas dengan meng­umpulkan kredit sebanyak 180 ECTS selama 3 tahun.

Lulusan program ini berhak menguna­kan titel Bachelor of Science dan Bach­elor of Arts (B.A./B.Sc.) tergantung dari jurusan yang diambil

Master Degree diperoleh set­elah menyelesaikan program magister di HBO dengan mengumpulkan kredit sebanyak 60 atau 120 ECTS (1 atau 2 tahun). Lulusan program ini hanya berhak meng­gunakan title master yang berkaitan den­gan jurusannya.

Contoh: Master of Social Work, Master of Business, dan lain-lain.

Master Degree diperoleh setelah menyelesaikan pro­gram magister di Universitas dengan mengumpulkan kredit sebanyak 60, 90 atau 120 ECTS (1, atau 1,5 atau 2 tahun).

Lulusan program ini berhak menguna­kan titel Master of Science dan Master of Arts (M.A./M.Sc.) tergantung dari ju­rusan yang diambil.

 

Yasmin Soraya

Bulgaria: Mengenal dari dalam

Posted in Edisi 2, Jalan-Jalan on February 6th, 2010 by jong – Be the first to comment

 

sofia-tramBulgaria adalah negara yang sudah menjadi anggota Uni Europa namun belum masuk daerah Schengen (baru tahun 2011 nanti). Pada Bulan Mei 2009 saya perlu bepergian ke Bulgaria. Dan sebagai pemegang paspor Garuda, saya wajib membuat visa. Biaya visa adalah 60 Euro dan pembuatannya di kedutaan besar Bulgaria, Den Haag, memakan waktu kurang lebih seminggu. Syarat pembuatan visa waktu itu adalah kartu izin tinggal di Belanda (verblijfsdocument) yang masih berlaku beberapa bulan, tiket ke Bulgaria p.p., tanda reservasi penginapan, dan surat tabungan bank atau slip gaji.

Saya mendarat di bandara Sofia dengan Wizz Air, yang berlokasi di terminal 1. Petugas imigrasi masih cukup curiga terhadap kami yang mempunyai paspor Garuda ini, walaupun kami mempunyai kartu izin tinggal di negara Eropa yang lebih maju. Setelah menunjukkan tiket, tanda reservasi hostel, dan surat-surat lainnya, barulah kami diperbolehkan masuk. Untung dokumen-dokumen yang saya bawa untuk pengurusan visa masih saya simpan sebagian.

Sebelum berangkat, teman kami mengingatkan bahwa penting untuk memilih satu-satunya perusahaan taksi yang beres karena yang lainnya suka menipu. Tapi kami menemukan taksi sampai pusat kota dengan harga 3 Euro per orang; taksinya merupakan mobil minibus berkapasitas 9 orang. Karena bisa membayar dengan Euro dan petugasnya profesional dengan bahasa Inggris dan kartu nama resmi, kami pun naik menuju pusat kota tanpa biaya tambahan.

Waktu kami berada di kota Sofia, pengamatan kami tidak terlalu dalam karena masih semangat mencari tempat wisata terkenal seperti katedral ortodox Alexander Nevski. Setelah berkeliling seharian, saya mulai menyadari situasi warganya. Negara yang total penduduknya 7,5 juta jiwa ini terlihat cukup banyak memiliki komposisi penduduk berusia tua. Kemungkinan besar, yang muda banyak mencari penghidupan di negara-negara Eropa yang lain.

Suhu udara pada akhir bulan Mei saat itu sudah mencapai sekitar 20 derajat Celsius, sehingga mirip musim panas di Belanda. Selain itu, matahari bersinar sangat cerah dan terik, sehingga jauh lebih hangat daripada Belanda. Bekal pakaian yang saya bawa saat itu adalah seperti yang biasa saya pakai di Indonesia, dengan tambahan jaket katun jika keluar malam.

Seperti halnya negara-negara yang baru masuk Uni Eropa, di Bulgaria banyak terdapat konstruksi pembangunan karena derasnya dana yang dikucurkan demi mempercepat pencapaian standar hidup yang layak menurut Uni Eropa. Di kota Sofia, saat itu sedang banyak konstruksi jalur kereta bawah tanah. Di kota Plovdiv juga sedang ada pembangunan terminal bus. Namun, di Sofia banyak tempat wisata sehingga keadaan bangunannya lebih baik, sedangkan di kota Plovdiv masih banyak bangunan yang keadaannya tidak terawat.

Ketika kami tiba di kota Plovdiv, rasanya seperti sedang berada di sebuah kota di Indonesia. Udara hangat, lalu lintas yang tidak ramai maupun tidak sepi, bangunan-bangunan yang ala kadarnya dan daerah komersial yang mirip (seperti warung, tenda, toko kecil, dsb), juga membayar bus kepada kondektur! Ketika masuk daerah perumahan penduduk dan melihat mobil-mobil sederhana yang diparkir, anak-anak yang sedang bermain di reruntuhan bangunan, maupun warga yang sedang “dangdutan” di tengah jalan daerah perumahan, semakinlah saya merasa seperti di Indonesia.

Kota Plovdiv sendiri merupakan salah satu kota tertua di Eropa, yang terdapat bangunan amphitheater kuno ala Romawi. Selain itu, juga ada peninggalan stadion Romawi kuno yang terpendam di bawah tanah. Stadion ini bisa terlihat sebagian, namun sebagian yang lain sudah tertimbun daerah pertokoan di pusat komersial kota Plovdiv.

Ketika kami selesai dari rumah teman dan bermaksud mengunjungi pantai laut hitam, kami diantar ke terminal bus. Teman-teman Bulgaria menyarankan untuk tidak naik kereta, karena selain perjalanan resmi yang lebih panjang dari bus, kereta bisa diberhentikan karena sebab-sebab tertentu di jalan dan bisa berjam-jam terlambat sampai tempat tujuan. Mendengar hal ini, saya teringat kereta kelas bisnis atau ekonomi di tanah air yang sering ditunda-tunda karena mendahulukan kelas eksekutif. Memang, ternyata bus yang kami naiki sudah sekelas Eurolines, sehingga kecepatannya cukup tinggi dan kami sampai di kota Burgas dalam waktu 4,5 jam dan bukan 6 jam seperti jadwal resmi kereta.

Tidak jauh dari kota Burgas yang merupakan kota pelabuhan, ada kota Nessebar yang merupakan “museum tanpa dinding.” Kota kecil di pinggir pantai ini menyimpan beberapa gereja dalam jarak yang berdekatan dan semuanya masih dapat dilihat walaupun sudah lama berdiri, sejak abad 11 sampai 13. Beberapa dari gereja-gereja ini sudah runtuh sebagian, sehingga hanya terlihat rangkanya. Daerah rumah-rumah penduduk di kota ini sangat berbeda dengan Plovdiv. Rumah-rumahnya rapi dan terlihat baru. Mobil-mobil yang diparkir di depan rumah-rumah itu juga jenis mobil baru. Tampaknya kota ini banyak terbantu perekonomiannya dari industri turisme. Dari kota ini juga ada shuttle bus menuju pantai Sunny Beach, yang cukup nyaman untuk berjemur sinar matahari maupun bermain air di pantai. Laut hitam yang bersih terlihat hijau dan biru. Sinar matahari yang terik membuat banyak orang mandi di pantai layaknya musim panas.

Selain daerah Burgas yang terletak di selatan Bulgaria ini, ada juga kota Varna yang terletak di utara. Varna juga menghadap laut hitam dan industri beach resort-nya juga cukup berkembang. Sayangnya, perjalanan kami tidak sampai ke utara. Selain itu, di daerah selatan juga banyak pegunungan yang terlihat dari Plovdiv. Yang terkenal adalah pegunungan Vitosha di dekat Sofia. Di bagian selatan pegunungan ini, terdapat perbatasan Bulgaria dengan Yunani. Pegunungan Vitosha ini cukup terkenal untuk olahraga ski di musim dingin. *** (foto: QS)

Foto-foto lain tentang Bulgaria dari saya bisa dilihat di sini: http:// www.flickr.com/qonita/tags/ bulgaria/

Qonita S.

Bisnis bunga di Belanda senilai lebih dari 4 Milyar Euro

Posted in Edisi 2, Esei on February 6th, 2010 by jong – Be the first to comment

dutchfloraltradefairstartsearlythisyear2009Berbicara mengenai negeri Belanda, kita dapat mengarahkan asosiasi pikiran kita pada hal-hal unik yang menjadi karakteristik negeri bawah laut ini. Kita dapat mengasosiasikan pikiran kita pada kincir angin, pada kota Amsterdam, pada produk kejunya, dan berbagai hal berkesan lainnya. Selain itu, kita juga dapat mengasosiasikan Belanda dengan objek wisata Keukenhof, yang menawarkan keindahan taman bunganya yang ditata secara apik. Berbicara tentang bunga, ada satu hal yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Untuk negara dengan luas kurang dari sepertiga pulau jawa, ternyata negeri Belanda adalah tempat diselenggarakannya transaksi jual-beli bunga terbesar di dunia. Setiap tahunnya, sejumlah uang bernilai lebih dari 4 miliar euro atau lebih dari 54,3 triliun rupiah berputar di Belanda hanya dari bisnis bunga ini.

Bisnis bunga ini dimotori oleh sebuah perusahaan bernama Flora Holland. Perusahaan ini memiliki 6 fasilitas pasar tempat jual beli bunga; Aalsmer (dekat Amsterdam), Naaldwijk (dekat Den Haag), Rijnsburg, Venlo, Bleiswijk dan Eide. Dengan transaksi harian mencapai lebih dari 125 ribu rekam transaksi, yang melibatkan perpindahan barang harian lebih dari 45 juta bunga potong dan 5 juta tanaman dalam pot, Flora Holland berhasil menguasai 60% dari pangsa pasar tanaman dunia. Pencapaian ini tentu adalah hal luar biasa, mengingat perusahaan ini pada awalnya hanyalah merupakan gabungan dari koperasi-koperasi petani bunga lokal yang ada di belanda.

Dengan keseriusan dan fokus pada inti bisnisnya, gabungan koperasi ini telah tumbuh berkembang menjadi tempat transaksi bunga global yang melibatkan berbagai pemasok dunia dari berbagai negara seperti Kenya, Israel, Etiopia, Ekuador, Jerman, dan lainnya. Sebagai pasar dunia, pembeli pun berdatangan dari seluruh dunia. negara-negara seperti, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, dan Amerika Serikat juga ber lomba-lomba mendapatkan penawaran bunga yang terbaik. Terjaminnya kualitas dan lebarnya variabilitas jenis bunga yang ditawarkan dalam satu sistem pasar menjadi salah satu kunci utama Flora Holland untuk menjadi portal transaksi bunga terbesar di dunia.

Dalam operasi hariannya, Flora Holland menyelenggarakan transaksi jual-beli bunga melalui dua mekanisme pasar. Mekanisme itu adalah mediasi langsung dan lelang bunga. Pada mekanisme mediasi langsung, Flora Holland bertindak sebagai penghubung antara penjual dan pembeli. Di sini Flora Holland berusaha mempertemukan pembeli yang memiliki keinginan khusus dengan penjual terbaik, sehingga apabila ditemukan kata sepakat penjual dan pembeli dapat langsung melakukan kontrak jual beli.

Tapi ternyata, lebih dari 65% omzet keseluruhan Flora Holland diraih bukan dari proses mediasi langsung melainkan dari mekanisme pasar lelang. Yang menarik, mekanisme lelang yang dipergunakan di Flora Holland cukup unik dan berbeda dari mekanisme lelang yang biasa kita kenal.

Biasanya ketika membicarakan tentang lelang, yang ada di bayangan kita adalah suatu kondisi bahwa seorang penjual menawarkan suatu barang dari harga terkecil, kemudian para peminat lelang saling berlomba untuk menunjukkan ketertarikan mereka dengan memasang harga yang lebih tinggi dari kompetitornya. Pemenang dari lelang adalah seseorang yang bersedia untuk membeli barang dengan harga paling tinggi. Mengingat banyaknya produk yang harus ditransfer dan produk yang diperjual-belikan adalah produk segar yang rentan akan proses pembusukan, lelang di Flora Holland dilakukan dengan cara yang berbeda. Penjual pertama kali akan menentukan harga maksimal dari suatu produk dan seiring dengan waktu maka penawaran harga itu akan diturunkan. Pembeli yang lebih cepat menyatakan kesediaannya untuk menawar barang akan mendapatkan barang yang diinginkan; intinya, siapa cepat dia dapat. Dilema akan terjadi untuk setiap pembeli. Pembeli tentu berkeinginan untuk mendapat barang dengan harga semurah mungkin. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan menunggu waktu sampai harga produk yang dimaksud turun. Di lain pihak, pembeli harus berhitung atas kemungkinan hilangnya kesempatan untuk mendapatkan barang yang diinginkan karena adanya kompetitor yang berani melakukan penawaran yang lebih tinggi dengan menekan bel lelang lebih cepat dari dirinya.

Tidak seperti lelang a la Inggris yang menghabiskan waktu yang banyak untuk menghasilkan keputusan final, dengan aplikasi lelang a la Belanda, waktu transaksi dapat dipotong dengan signifikan dan laju perputaran barang pun dapat ditingkatkan. Walhasil, mekanisme lelang Belanda sangat cocok diaplikasikan untuk barang-barang yang memerlukan tingkat perputaran barang yang tinggi.

Setelah sedikit membahas tentang mekanisme transaksi, kita akan membahas tentang pentingnya keberanian untuk melakukan investasi dalam aplikasi teknologi untuk menunjang keunggulan berkompetisi. Suatu hal yang menarik untuk dipelajari dari Flora Holland adalah investasi yang mereka keluarkan untuk aplikasi teknologi pembelian jarak jauh (remote buying). Dengan fasilitas ini, mereka dapat mengundang seluruh calon pembeli dari seluruh dunia yang terkoneksi dengan internet untuk turut meramaikan pasar.

Investasi yang mereka keluarkan pun berbuah manis. Lebih dari 285 juta euro omzet pasar diraup dari hasil transaksi melalui aplikasi pembelian jarak jauh. Hal ini menunjukkan bahwa kepekaan terhadap teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan performa pasar adalah hal yang menentukan perkembangan bisnis.

Artikel ini tentu terlalu singkat untuk membahas seluruh aspek dari keberhasilan salah satu perusahaan Belanda dalam mengorganisir komoditas hortikultura. Untuk negara dengan luas lebih kecil dari provinsi Jawa Timur ini, contoh yang telah dibahas ini tentunya menggugah kita akan potensi negara kita yang besar dalam bidang pertanian. Hal lain yang cukup menarik adalah, dari sepuluh besar pemasok terbesar Flora Holland, terdapat negara-negara yang notabene tidak lebih unggul dari indonesia. Dari daftar pemasok terbesar, tanpa membahas negara maju, ternyata negara-negara seperti Kenya, Etiopia, Ekuador, Zimbabwe dan Tanzania pun mampu berpartisipasi mengantarkan produknya ke kancah perdagangan bunga dunia. Kenya bahkan membukukan lebih dari 200 Juta euro sebagai omzet pasokan pertahunnya.

Dengan potensi yang dimiliki Indonesia, seharusnya Indonesia pun dapat berperan serta tidak hanya dalam industri bunga ini, tapi juga produk agraria lainnya. Mengingat suatu kalimat bijak, “Ketika kita memulai pekerjaan, sesungguhnya kita telah menyelesaikan 50% dari seluruh porsi tugas yang harus dilakukan.“ Pertanyaan konkritnya adalah, “Kapan kita akan mulai bergerak?“. ***

Meditya Wasesa.

Keindahan tulip, keberhasilan Belanda

Posted in Edisi 2, Iptek on February 6th, 2010 by jong – Be the first to comment

tulipSetidaknya tiga hal yang melekat pada identitas Belanda: kincir angin, klompen (sepatu kayu), dan tulip. Tapi tahukan anda bahwa tulip bukanlah berasal dari Belanda?. Ya, tulip berasal dari Turki, Iran, Pakistan, Afganistan, dan beberapa daerah di kawasan Asia Tengah. Tulip berkembang pesat di Turki pada masa kerjanaan Ottoman di bawah pemerintahan Sultan Ahmed III (1703-1730). Nama tulip itu sendiri diambil dari bahasa Persia, “toliban”. Tidak begitu jelas alasan pemilihan nama tersebut. Mungkin bentuknya menyerupai “turban”, tutup kepala yang banyak dipakai oleh kaum Persian. Toliban kemudian ditranslasi kedalam bahasa Latin sebagai “tulipa”.

Carolus Clusius, peneliti bidang botani pada Universitas Leiden, Belanda, adalah tokoh dibalik kesuksesan emblem tulip untuk mencirikan Belanda. Dialah yang pertama kali membiakkan tulip pada abad ke 16. Hasil karya ilmiah Clausius patut diacungi jempol. Dia berhasil membiakkan tulip di Belanda, daerah yang berada di bawah permukaan laut. Sedangkan didaerah asalnya, tulip hanya bisa hidup di daerah pegunungan. Tidak hanya itu, dia pun berhasil untuk pertama kalinya melakukan rekayasa yang menghasilkan tulip dalam beberapa variasi warna. Tulip, yang awalnya ditujukan untuk tanaman obat, kemudian lebih dikenal sebagai tanaman dekorasi. Akantetapi, berbagai macam warna dan variasi yang ada hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Wajar jika kemudian diawal kemunculannya, tulip hanya mampu dinikmati oleh kaum kelas atas dan aristrokrat Eropa.

Tidak demikian halnya dengan keberadaan tulip saat ini. Riset yang dikembangkan oleh kerjasama berbagai lembaga di Belanda mampu mereproduksi berbagai variasi tulip dalam jumlah yang tak terbatas sehingga tulip saat ini mampu dijangkau oleh berbagai kelas masyarakat. Proeftuin Zwaagdijk (Agricultural research center), International Flower Bulb Centre, Koninklijke Algemeene Vereeniging voor Bloembollencultuur (KAVB- the Royal General Bulb Growers’ Association), Bloembollenkeuringsdienst (Flowerbulb Inspection Service), Hortus Bulborum Foundation, Wageningen University and Research Center, dan Leiden University adalah contoh beberapa lembaga yang melakukan riset pengembangan tulip.

Pertanyaan yang harus diselesaikan oleh para peneliti tulip diantaranya bagaimana menghasilkan varietas baru yang tentu memiliki karakter unggul dibandingkan varietas sebelumnya; cocok digunakan sebagai tanaman hias dan tanaman potong, tersedia dalam berbagai bentuk, ukuran, dan warna, serta memiliki daya tahan terhadap berbagai penyakit. Usaha yang dilakukan pemerintah Belanda melalui kolaborasi berbagai pihak cukup membuktikan konsistensi dan keseriusan pemerintah Belanda mengembangkan tulip. Hingga saat ini setidaknya tercatat lebih dari 10000 kultivar dan lebih dari 80% tulip di dunia di produksi di Belanda. Tertarik untuk melihat bagiamana indahnya variasi jenis tulip di Belanda?

Keukenhof, dikenal juga sebagai Garden of Europe, adalah kebun tulip terbesar di Belanda. Tidak hanya itu, kebun yang terletak di selatan Belanda di kota kecil bernama Lisse bahkan tercatat sebagai taman bunga terbesar di dunia. Berdasarkan informasi pengelola Keukenhof, tiap tahunnya sebanyak 7 juta bibit tulip dibiakkan untuk menarik sedikitnya 800.000 pengunjung. Jika anda tertarik mengunjuginya, perlu dicatat bahwa Keukenhof tidak dibuka sepanjang tahun, melainkan hanya dari pertengahan bulan Maret hingga pertengahan bulan Mei. Cukup dengan mengeluarkan € 14 tiap pengu?jung dewasa sudah bisa menikmati keberagaman tulip sepanjang hari dan tentu juga berbagai atraksi lainnya seperti parade bunga dan pameran anggrek. Untuk tahun 2010, Keukenhof akan dibuka pada 18 Maret – 16 Mei 2010. Namun demikian, untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari Keukenhof, ada baiknya anda berkunjung dipertengahan April. Tertarik berkunjung? Silahkan kunjungi http://www.keukenhof.nl/. *** Yessie Widya Sari.

Malu Beli Barang Bekas?

Posted in Edisi 2, Esei on February 6th, 2010 by jong – 1 Comment

2604770226_345a877bc7_mDi negeri yang pendapatan perkapitanya USD 52,500 ini, barang bekas/ loak atau second-hand masih sangat dihargai dan diminati.Di Wageningen contohnya, residen kecil berpenduduk 35 ribu jiwa inimemiliki paling tidak beberapa toko tempat jual-beli barang loak, Yang cukup dikenal diantaranya adalah Kringloop, Emaus, dan Terre de Hommes. Barang-barang yang ditawarkan pun bervariasi seperti buku,baju, lemari es, sofa, meja, sepatu, CD, pernak-pernik, microwave, penyedot debu (vacuum cleaner), barang pecah-belah dan masih banyak lagi.

Faktanya, Pemerintah daerah setempat seperti Walikota/ Kotamadya (Gemeente) inilah yang mengorganisir pengumpulan barang-barang bekas ini. Bagi penduduk yang ingin membuang barang layak pakai disediakan tempat-tempat tertentu. Untuk baju atau sepatu contohnya, disediakan kontainer di depan supermarket-supermarket. Atau untuk barang besar seperti sofa, kulkas, meja dan sebagainya akan diangkut langsung dengan syarat wajib lapor pembuangan barang.

Selain toko barang bekas di atas, ada juga yang disebut rommelmarkt atau pasar barang bekas. Kegiatan ini biasanya dikoordinir oleh “RT/RW” setempat dan diadakan pada hari dimana semua orang bisa berjualan barang yang tidak diperlukan lagi. seperti ini pun sudah merambah ke dunia maya. Cek saja situs-situs seperti e-Bay, Marktplaats, dan Tweedehands yang traffic-nya tak pernah sepi dalam bisnis jual-beli barang baik baru maupun second-hand. Dalam situs-situs tersebut, jenis barang yang ditawarkan lebih beragam lagi seperti sepeda, barang elektronik, pakaian, musik, sampai rumah, mobil danbahkan alat pemuas seks.

Jual-beli barang ini sangat menguntungkan para mahasiswa yang umumnya hidup menghemat. Tanpa malu-malu, Jiman mengaku bahwa barang-barang di kamarnya, mulai dari speaker, kulkas, lemari hinggabeberapa baju hangat, didapatnya dari toko barang loak. “Mengapa harus malu?” katanya.

Begitu pula halnya dengan Affan,ia mengaku sangat terbantu dengan situs Marktplaats. Barang apapun yang ia butuhkan– seperti laptop dan kamera - tersedia di sana dengan harga miring. “Barang-barang tersebut juga bisa dijual kembali,” katanya. “Dan jika beruntung, harga jualnya bisa lebih tinggi dari harga beli,” tambahnya.“

Lain lagi dengan Oscar, selain berburu barang di Marktplaats, ia juga memperluas pertemanan. “Saya suka fotografi dan saya biasa membeli perlengkapan fotografi melalui Marktplaats. Di situ saya bertemu banyak teman-teman baru. Ada teman yang kemudian menjadi teman berbagi pengetahuan fotografi, tapi ada juga yang ternyata pejabat tinggi di Belanda dan saya bisa banyak bertanya serta bertukar pikiran. Kalau penjualnya ‘cewek pirang’, bisa minta tukeran nomor hape juga,” guraunya.

Membeli dan mengumpulkan barang bekas memang cukup diminati karena pada umumnya barang baru di Belanda harganya selangit. Namun di balik itu, ada pula beberapa cerita dari teman-teman yang kurang beruntung dalam berburu barang bekas. Salah satu mahasiswi Indonesia, sebut saja Yuni, pernah membeli sebuah televisi dengan harga sangat murah. Namun ternyata tv tersebut rusak dan tidak bisa dipakai. Beberapa teman mahasiswa lainnya juga mengeluh karena ternyata barang yang mereka beli cacat, rusak atau bahkan lebih mahal dari harga barunya. Untuk itu, diperlukan kejelian dalam memilah barang bekas yang hendak dibeli. Jika perlu, bisa meminta bantuan teman-teman yang telah lebih lama berkecimpung dalam dunia transaksi barang bekas.

Itulah fenomena gunung es pasar loak di Belanda. Perburuan barang lungsuran di negeri ini bukan hanya kegiatan dan konsumsi masyarakat menengah ke bawah. Tanpa rasa gengsi dan pakewuh, bisa dibilang semua orang di Belanda memanfaatkan jual-beli barang loak. Mahasiswa Indonesia pun merasa keberadaan pasar loak ini sangat membantu kehidupan mereka di negeri ini. Selama bisa dimanfaatkan, kenapa harus malu?

Website toko barang bekas

Toko Kringloop di daerah rumah anda: http://www.kringloopwinkels.nl/

Jadwal dan tempat rommelmarkt: http://www.xs4all.nl/~mkalk/vlomarkt.htm

http://www.terredeshommes.nl/

Mailing list jual beli barang untuk expat daerah zuid-holland (Den Haag, Delft, Leiden, Utrecht dan sekitarnya) : ashbuysell02@yahoogroups.com

Situs jual/ beli barang bekas umum: www.marktplaats.nl

Situs jual/ beli barang bekas khusus pelajar: http://www.studmarkt.nl/

www.tweedehands.nl

www.ebay.nl.

*** Jimmy Perdana.

Kotak Saran Jual Beli Barang Bekas

  • Bandingkan harga dengan harga asli dan harga jual dalam situs-situs di atas
  • Periksa kelebihan dan kekurangan barang. Bila membeli, jangan ragu untuk bertanya pada penjual dan beru­sahalah untuk jujur bila menjual barang
  • Tanyakan tips-tips pada teman yang sudah berpengalaman dalam jual/beli barang bekas
  • Jangan gampang tergi­ur dan langsung mem­beli sebelum melaku­kan tips-tips di atas

Peter Fennema, Londo Yang Cinta Lagu Indonesia

Posted in Budaya, Edisi 2 on February 6th, 2010 by jong – Be the first to comment

peter1

Peter yang tinggal di Enschede, provinsi Overijssel, Belanda timur ini bercerita tentang minatnya pada musik dan hingga kini namanya dikenal oleh hampir seluruh pelajar Indonesia di kota tersebut. Ia sempat belajar piano klasik di masa mudanya. Bersama tiga kawannya, ia membentuk band bernama Link, dan di tahun 1990 mereka membuat album pertama yang lagu-lagunya berbahasa Inggris.

Bersama pasangannya, Lucie, ia sering berwisata ke Asia, terutama ke Indonesia. Di sanalah ia mulai memperhatikan musik-musik Indonesia dan akhirnya tertarik. Dalam perbincangan kami di rumahnya, Peter bercerita, “Saya banyak menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris juga. Namun di Indonesia, saya perhatikan mereka memiliki warna musik yang beragam. Sejak itu saya mulai dengan gitar mencoba menyanyikan beberapa lagu Indonesia.”

Di Indonesia, dia tak cuma berwisata seperti wisatawan mancanegara umumnya tetapi juga membaur dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Pernah suatu kesempatan di Sulawesi, ia bermain musik dengan warga setempat. Sikap yang tak segan dan ramah ini membuatnya banyak memiliki teman orang Indonesia.

Bagaimana ia bisa dikenal para pelajar Indonesia di Enschede? “Tahun 2006 ketika Lucie dan saya kembali dari liburan kami, saya mencoba merekam lagu-lagu yang bisa saya nyanyikan. Kemudian saya coba membuat situs web sederhana, hanya berisi rekaman MP3 dan baru memuat teks-teks tanpa gambar yang menarik. Lalu saya kenal seorang pelajar Indonesia, dan dia mendaftarkan email saya ke milis PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Enschede. Di situ saya memperkenalkan diri dan hobi saya.”

Rekaman lagu Desaku di situs www.nlpeter.nl inilah yang pertama membuat heboh Enschede. Di situs miliknya itu, ia tak cuma bernyanyi, tetapi juga mengucapkan lafal lagu dengan baik. Peter rupanya pernah belajar bahasa Indonesia. Ditambah interaksi dengan penduduk ketika liburan di Indonesia, dia bisa berbicara dan mengerti meski hanya sedikit.

Dalam rumahnya yang sederhana untuk ukuran Belanda, terdapat sebuah piano di ruang tamu. Ada juga ruangan kecil yang tidak terpakai, dan ia buat sebagai studio kecilnya. Di studio itu ia memproses rekaman suara dan videonya. Dinding studionya memang tidak dilapisi peredam bising, namun lingkungan rumahnya cukup tenang. Di situ hanya ada peralatan sederhana saja menurutnya: komputer untuk perangkat lunak yang dibutuhkan, mixer untuk mikrofon, headset, dan instrumenkeyboard untuk aransemen musiknya, serta gitar akustik dan elektrik.

Pengagum Chrisye ini sudah beberapa kali diundang tampil oleh PPI Enschede dalam acara cultural mereka. Bahkan ia pernah diundang untuk wawancara langsung di Nuansa Pagi RCTI dan bertemu dengan keluarga mendiang Chrisye. Dan saat ini di sela-sela rutinitas kerjanya, meneer Fennema sibuk menyiapkan rekaman lagu berbahasa Indonesia yang dikarangnya sendiri. Video-video dan kolaborasinya dengan pelajar Indonesia sengaja ia unggah di YouTube. Hampir lebih dari tiga tahun berkecimpung dengan lagu-lagu Indonesia, sekarang ia memiliki banyak kenalan musisi Indonesia.

(Mungkin bila teman-teman berkesempatan ke Enschede dapat berkenalan dengan Peter. Tapi bila tidak, cukup berkenalan melalui websitenya yang menarik. Bila Peter saja mencintai musik Indonesia, mengapa kita tidak?)***

Bhayu Prasetya Turker.

Belanda Rasa Indonesia

Posted in Edisi 2, Esei on February 2nd, 2010 by jong – Be the first to comment

Pengalaman berkerabat dengan bangsa Belanda

Oleh: Arli Parikesit (Jerman)
dsc_11531Lebih dari dua puluh tiga tahun lalu, ayah saya mendapat kesempatan untuk studi kedokteran di Jerman, dengan sponsor pemerintah Jerman (DAAD) dan perusahaan farmasi. Alhasil, dengan kebaikan hati sponsor, saya, adik, dan ibu berkesempatan menjenguk ayah di Eropa.

Sebelum keberangkatan, ibu bercerita, bahwa kita akan mengunjungi Belanda, dan bersilaturahmi dengan kerabat di sana. Saya terheran, bagaimana mungkin kami bisa punya kerabat orang Belanda? Ibu lalu menjelaskan, bahwa tantenya menikah dengan orang Belanda sehingga. anak -cucu mereka sekarang menetap di sana.

Setelah menginjakkan kaki di Belanda untuk kali pertama, saya bertemu dengan para kerabat di sana. Memang tidak banyak yang saya ingat, berhubung waktu itu usia saya masih kecil. Namun, foto-foto yang diambil oleh ayah, memperlihatkan bahwa suasana pertemuan kami saat itu sangatlah hangat. Ada pesta meriah untuk menyambut kami, sang keluarga jauh dari negeri zamrud katulistiwa, Indonesia. Semua kerabat kami di foto tampak sangat bahagia.

Beberapa tahun setelah kunjungan saya ke Belanda, kerabat di sana sempat mengunjungi kami juga. Namun, ingatan saya tentang mereka tetaplah masih samar-samar. Setelah dua puluh tahun, saya sudah mulai lupa dengan pengalaman tersebut. Saya sibuk menyelesaikan kuliah S2 saya di Universitas Indonesia, dan juga sebagai asisten peneliti di almamater saya. Namun, di tengah kesibukan saya sebagai asisten, tiba- tiba om saya memberi kabar, bahwa akan datang seorang kerabat dari Belanda.

Kenangan masa lalu saya seakan kembali lagi berputar ke belakang. Akhirnya, kami sekeluarga bertemu dengannya di Pondok Indah Mall (PIM). Ternyata, dia masih terhitung sepupu saya (anak sepupu ibu saya). Kami mengobrol mengenai berbagai hal. Ternyata dia ke Indonesia untuk keperluan bisnis. Iini mengingatkan saya, bahwa memang bangsa Belanda adalah bangsa pedagang, dan bisnis adalah hal yang biasa bagi mereka.

Pertemuan itu pun berlalu, dan saya sibuk kembali dengan rutinitas di laboratorium bioinformatika. Beberapa bulan berselang, datanglah pemberitahuan di email saya. Aplikasi saya untuk melanjutkan studi S3 di bidang bioinformatika diterima oleh DAAD. Saya pun harus berangkat ke Leipzig, setelah mengikuti kursus bahasa di Indonesia dan Jerman. Mendengar kabar ini, kami sekeluarga gembira, dan mereka mengingatkan saya untuk bersilaturahmi dengan kerabat di Belanda.

Di sela-sela kursus bahasa, saya menyempatkan diri bertemu kembali dengan kerabat di Belanda.Namun, pada pertemuan pertama ini, tidak banyak anggota keluarga yang hadir. Kedatangan saya ke Belanda ini, juga disertai dengan keheranan sebab saya menemukan bahwa Bahasa Belanda dan Jerman memiliki banyak sekali kemiripan kosa kata. Lama setelah itu, saya mulai mampu menebak isi pembicaraan dan tulisan dalam bahasa Belanda, walau tidak bisa mengucapkannya sama sekali. Sehingga, ketika kerabat saya berbicara di antara mereka sendiri, saya mulai bisa mengerti isi pembicaraan mereka.

Kedatangan kedua, adalah sewaktu libur natal terakhir. Saat itu, saya mengontak sepupu saya, supaya saya dipertemukan dengan semua kerabat yang tersebar di seluruh negeri Belanda. Mereka semua menyanggupi untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan saya, dan. bahkan memberikan akomodasi di rumah mereka. Saya heran, sebab setahu saya, dalam kebudayaan barat, silaturahmi menjadi hal yang asing. Tetapi saya tidak menemukan hal itu di Belanda.

Sebelum puncak acara, saya dan sepupu mempersiapkan makanan Indonesia, di antaranya semur, sayur lodeh, nasi kuning, kerupuk, tahu-tempe, sambal, dan lain-lain.

Semua makanan Indonesia ini kami persiapkan, untuk acara Natal. Saya terheran sebab untuk pesta Natal sekalipun, yang menjadi masakan adalah makanan Indonesia. Suasana pesta pun sangat meriah, seperti selamatan di Indonesia. Ini adalah suatu pengalaman religius yang nyata bagi saya:, selamatan di negeri yang jauhnya ribuan kilometer dari tanah air, dan bukan bersama bangsa sendiri tetapi rasanya seperti di Indonesia.

Sungguh pengalaman yang luar biasa. ***

Kesalahan Sistem atau Manusianya?

Posted in Edisi 2, Esei on February 2nd, 2010 by jong – 1 Comment

Oleh:  Qoyz Lofty

euro-currency-01Ada hal yang membuat hati miris saat (harus selalu) berhadapan dengan realitas social negeri ini yang seperti potret buram. Saya memandangnya dari sisi ekonomi. Karena dampak dari permasalahan ekonomi ini rembetan masalahnya bisa meluas ke berbagai sector, seperti social, budaya, politik dan hukum bahkan moral.

Lihat saja di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Hampir di setiap sudut kota akan kita dapati anak-anak jalanan, pengemis, pengamen dan orang-orang terpinggirkan lainnya, dan mereka dianggap sebagai parasit ekonomi-sosial. Saya sering bertanya dalam hati, apakah pemerintah tidak menyadari keberadaan mereka? Bagaimana cara mengatasinya?

Pertanyaan seperti ini selalu berputar-putar dalam benak, bersamaan dengan pertanyaan lain yang juga tidak kalah menggelitik hati, apa atau siapa yang salah ini? Adakah yang patut dipersalahkan? Ada sebagian yang berpendapat ini adalah kesalahan manusia-nya. Benarkah?

Tapi saya tidak sependapat. Bukan mereka yang salah. Bukan manusianya. Manusia2 seperti mereka jadi terpinggirkan hanya karena tidak memiliki akses ekonomi. Alias fakir miskin. Dan ini bukan salah mereka.

Menurut pendapat saya ini adalah mutlak kesalahan sebuah sistem. Kerena memang sistem ekonomi yang ada tidak mengakomodasi keberadaan mereka. Dan hanya mengakomodasi manusia-manusia yang memiliki modal alias kaum berduit dan yang memiliki akses pada perekonomian.

Ya sistemlah yang salah. Sekali lagi aku bicara sistem ekonomi. Dalam hal ini kapitalisme. Walaupun mungkin tidak secara eksplisit menyatakan bahwa negeri menganut sistem kapitalisme, tetapi dalam prakteknya jelas terlihat bahwa sistem inilah yang memainkan perannya secara signifikan. Disadari atau tidak. Sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa tanpa disadari, ternyata nilai-nilai yang ada dalam kapitalisme memberikan kecenderungan yang kontradiktif dari apa yang menjadi tujuan pembangunan fisik ekonominya.

Permasalaha-permasalahan social yang muncul dalam ekonomi seperti diatas, kesenjangan sosial, kemiskinan, kriminalitas, pengangguran dan konflik sosial masih menjadi rapor merah yang mengacaukan prediksi-prediksi pembangunan. Khususnya bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia. Bagaimana tidak, beberapa kali berganti pemimpin, permasalahan yang sama masih selalu saja muncul, yang hingga detik ini masih belum terselesaikan dengan baik.

Perlu pula disadari, bahwa hingga kini kapitalisme belum mampu mengatasi fenomena ini. Dari analisa sederhana, saya berkeyakinan, jika sistem ini masih memegang peran dalam perekonomian suatu bangsa, maka bukan suatu hal yang mustahil fenomena-fenomena seperti ini akan terus kita saksikan.

Walaupun memang tak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme telah memberikan begitu banyak hasil positif bagi peradaban umat manusia. Perkembangan teknologi, kemudahan fasilitas hidup, infra struktur dan variasi produk menjadi bukti bahwa kapitalisme menunjukkan perannya yang signifikan.

Namun terlepas dari semua itu, ternyata terdapat data-data yang begitu jelas menunjukkan bahwa sistem kapitalisme memberikan goncangan-goncangan ekonomi dan implikasi-implikasi yang negative. Mulai jeratan hutang dihampir seluruh negara berkembang, kemiskinan yang semakin luas di negara dunia ketiga dan krisis-krisis ekonomi khususnya sector keuangan. Seperti yang baru-baru ini terjadi, krisis ekonomi global.

Mengutip kata-kata Roy Culpeper, dalam artikelnya “New economic architecture”, mengatakan dengan tegas dan jelas bahwa kesalahan bukanlah terletak pada manusia-manusia dibalik pembuatan kebijakan dalam sebuah sistem perekonomian, tapi adalah sistem itu sendiri yang menjadi sumber dari semua kekacauan ekonomi.

Berikut kutipannya : “Sistemlah yang patut disalahkan daripada pelakunya. Seperti yang diibaratkan oleh Robert Wade, meluasnya kecelakaan lebih disebabkan oleh “desain jaringan” daripada pelaku buruk sopir. Dalam artikel Briefing yang saya tulis untuk institute North-South pada Juni 1998, saya menamai masalah ini sebagai ketidak stabilan sytemik. Ketidak stabilan ini telah berjalan terus menerus dikemudikan oleh pemerintahan tertentu yang dipimpin oleh USA dan kelompok G7-nya dan tekanan2 dari industry keuangannya sendiri, untuk meliberalisasi sector keuangan dan transaksi rekening modal diseluruh dunia”.

Jadi, saya fikir haruslah ada sebuah sistem yang bisa mengakomodasi semua kondisi. Baik yang berduit maupun yang tidak sama sekali. Khususnya bagi mereka yang dianggap parasit, yang tidak memiliki akses ekonomi tadi.

Sistem Ekonomi Islam
Sistem ekonomi Islam dalam hal ini, mengakomodasi semua kondisi ekonomi. Baik lingkungan maupun pelakunya. Khususnya bagi mereka yang dianggap parasit ekonomi tadi. Islam menawarkan mekanisme zakat sebagai kemestian sistem untuk memecahkan masalah ekonomi mereka, disamping beberapa kebijakan ekonomi Negara yang memang ditujukan kepada mereka.

Sebenarnya yang relatif menjadi potensi untuk menjadi masalah adalah distribusi harta yang tidak merata yang diberikan Allah kepada masing-masing manusia. Ketika penyikapan manusia terhadap harta tidak benar, maka akan menimbulkan masalah-masalah. Penyikapan terhadap harta inilah yang kemudian menjadi titik perhatian sistem ekonomi islam. Pengaturan ekonomi islam terhadap perhatian ini begitu menyeluruh, dari penyikapan individu, keluarga, masyarakat hingga negara.

Namun tidak meratanya distribusi harta tersebut kepada manusia, bukanlah tanpa maksud dan sebenarnya merupakan sunnatullah. Sehingga dengan keadaan tersebut, manusia dianjurkan untuk saling berinteraksi dengan baik, saling mengasihi dan besyukur atas segala yang Allah berikan. Dan atas dasar paradigma inilah yang kemudian menjadi perhatian dalam sistem ekonomi islam.

Hal ini sejalan dengan corak perekonomian yang mementingkan kebersamaan atau altruisme, dan keyakinan bahwa hidup hanyalah sementara, sehingga harta sebagai alat untuk hidup dikonsumsi secukupnya saja. Meskipun pencarian harta dilakukan sebanyak yang kita mampu namun ini bertujuan untuk tujuan altruisme tadi.

Distribusi harta dengan mekanisme zakat dan dampaknya bagi perekonomian
Mekanisme zakat memastikan aktivitas ekonomi dapat berjalan pada tingkat yang minimal, yaitu pada tingkat pemenuhan kebutuhan primer. Mekanisme ekonomi yang akan menjelaskan proses pengembangan itu ketika zakat secara tepat diterapkan dalam perekonomian. Karena zakat yang bertugas mendistribusikan kekayaan pada golongan masyarakat yang membutuhkan, dengan keyakinan bahwa pada tiap harta yang didapatkan oleh seseorang didalamnya terdapat hak fakir miskin dan orang-orang yang kekurangan, atau dikenal dengan 8 asnaf:  “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para mu’allaf, yang dibujuk hatinya untuk memerdekakan budak, orang-orang berhutang, untuk yang (berjihad) dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana”. (QS. At-Taubah : 60).

Mekanisme zakat ini memiliki dua fungsi utama, yaitu: fungsi yang memberikan manfaat bagi individu dan bagi kolektif. Yaitu sebagai alat ibadah yang memberi kemanfaatan bagi individu, bagi orang yang membayar zakat dan kemanfaatan kolektif bagi orang-orang dilingkungan yang menjalankan sistem zakat ini.

Untuk lebih dapat menggambarkan fungsi kolektif zakat, dapat dijelaskan prosesinya bahwa zakat akan dapat menjelaskan demand (permintaan) dipasar yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi. Peningkatan demand terjadi karena perekonomian mengakomodasi golongan manusia tak mampu sehingga pelaku pasar disisi demand dan supply (permintaan dan penawaran) meningkat seiring pertumbuhan populasi. Distribusi zakat pada golongan manusia tak mampu akan menjadi pendapatan yang kemudian membuat mereka memiliki daya beli, atau dengan kata lain, zakat membuat mereka memiliki akses pada perekonomian. Terlebih lagi jika Negara menyediakan fasilitas bagi mereka untuk bisa berusaha terlibat aktif sebagai pelaku pasar disisi supply.

Eksistensi zakat dalam kehidupan manusia baik pribadi maupun kolektif, pada hakikatnya memiliki dua alasan utama, yaitu : alasan ibadah dan alasan ekonomi. Alasan ibadah mengungkapkan bahwa eksistensi zakat merupakan salah satu variable atau ukuran bagi kepatuhan seseorang pada Allah SWT. Artinya zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang berada pada posisi yang baik dilihat dari sisi kepemilikan harta. Sementara alasan ekonomi adalah alasan yang mengungkapkan bahwa zakat merupakan variable utama dalam menjaga kestabilan social ekonomi. Dengan adanya zakat, ekonomi akan terus dijaga agar ada pada posisi aman untuk terus berlangsung, sekaligus menjaga stabilitas social pergaulan diantara manusia, antara pelaku pasar atau antara si kaya dengan si miskin.

Zakat memungkinkan perekonomian terus berjalan pada tingkat yang minimum. Akibat penjaminan konsumsi kebutuhan dasar oleh Negara melalui baitul mal menggunakan akumulasi dana zakat. Bahkan ada yang mengungkapkan bahwa zakat berpengaruh cukup positif pada ekonomi, karena instrument zakat akan mendorong investasi dan menekan penimbunan uang (mencegah idle money). Sehingga zakat memiliki andil dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro. ***

Qoyz Lofty, mahasiswa ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta

Belajar Menjadi Delegasi PBB

Posted in Berita, Edisi 2 on February 2nd, 2010 by jong – Be the first to comment

Di Belanda, ada sebuah wadah unik bagi para mahasiswa yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui berbagai konferensi dan pelatihan, The European International Model United Nations (TEIMUN Foundation) ingin mengenalkan diplomasi ala PBB kepada para mahasiswa.

Kegiatan utama yayasan ini setiap tahunnya adalah konferensi tahunan TEIMUN. Dalam hajatan tersebut, sekitar 240 mahasiswa dari seluruh dunia mengalami sendiri bagaimana mekanisme pengambilan keputusan dalam PBB dan NATO. Caranya, mereka akan terlibat dalam permainan simulasi peran.

Setiap peserta bisa memilih berperan dalam badan atau delegasi PBB tertentu, mulai dari menjadi Dewan Keamanan PBB, Sidang Umum PBB, delegasi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), Dewan HAM PBB (HRC), Mahkamah Internasional, Dewan Atlantik Utara, hingga Dewan Sejarah PBB. Peserta akan langsung mempraktikkan bagaimana mewakili sebuah Negara dan mempertahankan kebijakan luar negerinya.

Dengan begitu, selain memperoleh pengetahuan tentang politik internasional, para peserta pun bisa mengembangkan kemampuan berdebat dan berbicara di depan umum. Konferensi ini juga lengkap dengan program-program sosial, ekskursi, bahkan berbagai pesta asyik untuk berinteraksi lebih akrab dengan sesama orang muda dari aneka penjuru dunia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini konferensi TEIMUN akan berlangsung bulan Juli, tepatnya 5 Juli-11 Juli di Den Haag. Temanya adalah “Rise and Fall, Challenging the ongoing processes of history”. Adapun pembicara yang akan hadir antara lain mantan menteri luar negeri Belanda periode 2003-2007, Bernard Bot; perwakilan Belanda di PBB, Herman Schaper; dan mantan menteri keuangan Belanda, Gerrit Zalm. Bagi yang berminat, registrasi bisa dilakukan melalui situs http://www.teimun.org/teimun/registration.html dengan batas waktu pendaftaran tanggal 7 Mei 2010.

Sayangnya, ada biaya yang harus dibayar untuk ikut serta dalam konferensi ini. TEIMUN memungut biaya konferensi sebesar 150 euro per peserta. Biaya ini hanya mencakup biaya pendaftaran dan makan siang setiap hari. Sementara biaya akomodasi, hotel, visa, dan makan malam menjadi tanggungan peserta sendiri.

Transportasi dan Identitas Sosial

Posted in Edisi 2, Esei on January 29th, 2010 by jong – 1 Comment

Oleh: Dian Tri - Delft

3183142926_4288d847f6

Tiga bulan sudah saya menetap di kota Rotterdam, Belanda dan hingga detik ini saya masih terkesima dengan budaya masyarakat Belanda khususnya berkait dengan penggunaan moda transportasi. Bila bicara tentang isu moda transportasi umum, bisa dikatakan bahwa Belanda memiliki sistem transportasi yang sangat baik.

Seperti kota-kota lain di Belanda, Rotterdam memfasilitasi semua pengguna jalan dengan sebaik-baiknya. Ada beragam pilihan bagi pengguna jalan dengan fasilitas yang disediakan seperti menggunakan mobil pribadi, transportasi umum, sepeda dan juga berjalan kaki. Pada setiap jalurnya, jalan raya dibagi menjadi tiga bagian yaitu jalur untuk kendaraan roda empat, jalur untuk sepeda dan jalur untuk pejalan kaki. Selain ketiga jalur tersebut, jalan raya juga dialokasikan untuk jalur trem yang merupakan salah satu moda transportasi umum selain bis dalam memfasilitasi mobilitas warga Rotterdam.

Beragam pilihan di atas menjadikan penggunaan alat transportasi sungguh-sungguh dilihat dari fungsinya. Pilihan seseorang atas alat tranportasi biasanya didasarkan pada perhitungan efektivitas. Contoh, ketika seseorang memilih menggunakan sepeda, bisa diasumsikan bahwa menghemat biaya transportasi menjadi alasan utama selain tentunya ada alasan-alasan lain seperti untuk menjaga kesehatan dan juga menguruskan badan, seperti saya.

Ketika seseorang memilih menggunakan trem ataupun bis, biasanya dikarenakan cuaca buruk, kondisi badan tidak fit ataupun ketika jarak yang ditempuh terlalu jauh untuk menggunakan sepeda. Begitupun ketika seseorang memilih menggunakan mobil pribadi, biasanya mobil pribadi dipilih menjadi alat transportasi seseorang ketika dia membawa anggota keluarga seperti anak-anak.

Pada intinya, pilihan penggunaan jenis transportasi tidak lantas mempengaruhi status sosial seseorang. Di jalanan seperti di kota besar Rotterdam, kita bisa melihat laki-laki menggunakan stelan jas terbaiknya tetapi tetap santai bersepada menuju kantor. Begitu juga dengan perempuan yang bisa menggunakan pakaian terbaiknya, berpenampilan anggun dan modis tetapi bisa dengan nyaman menggunakan sepeda menuju kampus atau tempat kerjanya. Pilihan seseorang menggunakan sepeda, trem ataupun bis tidak lantas memberikan embel-embel status sosial pada mereka. Pilihan akan sepeda tidak lantas menunjukan bahwa orang tersebut dari kelas menengah ke bawah dan begitupun sebaliknya.

Hal yang sangat kontras bisa kita lihat di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta. Pilihan seseorang akan alat transportasi akan serta merta memberikan label kepada orang tersebut. Ketika dia hanya mampu menggunakan sepeda maka label sebagai kelas menengah ke bawah akan melekat kepadanya, kecuali sekelompok orang yang peduli lingkungan dan akhir-akhir ini marak mempromosikan penggunaan sepeda ke tempat kerjanya. Untuk kelompok ini, pilihan mereka menggunakan sepeda lebih kepada orientasi mereka atas penjagaan lingkungan dan tidak berkait dengan pilihan penggunaan alat transportasi dari segi efektivitas. Karena bila ditelusuri, penggunaan sepeda, untuk kota Jakarta yang luas dirasa kurang efektif terlebih lagi dengan suasana lalu lintas yang masih kacau balau dan belum memfasilitsi pengguna sepeda itu sendiri.

Di Indonesia, pilihan akan alat transportasi juga menjadi salah satu indikator kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Banyak dari warga Jakarta yang menjadikan kepemilikan atas mobil menjadi target dalam hidupnya. Bukan berarti ini merupakan hal yang salah.

Kita di sini tidak bicara mengenai hal yang benar atau salah. Saya juga tidak berniat menghakimi. Saya hanya mencoba melihat dua hal yang kontras antara pilihan penggunaan transportasi di Jakarta dan Rotterdam.

Mungkin bantahan yang akan muncul adalah bahwa kita tidak bisa membandingkan kota Jakarta dengan kota Rotterdam yang memang jauh lebih maju, teratur dan modern. Tetapi perbedaan ini membuat saya berfikir, apakah ada hubungan sebab akibat antara pilihan penggunaan alat transportasi dengan pembentukan budaya di masyarakat, atau sebaliknya? Pilihan alat transportasi di kota Rotterdam yang benar-benar dilihat dari sisi efektivitas atau segi fungsi lambat laun membentuk masyarakat yang bisa dikatakan sederhana.

Sekali lagi, ini hanya berdasarkan pengamatan saja dan memang belum ada penelitian yang membahas tentang hal ini. Apa yang saya amati di Jakarta, pilihan akan alat transpotasi yang kemudian mendorong pembentukan label akan status sosial seseorang akhirnya membentuk masyarakat yang tidak sederhana dan saling berlomba menunjukan keberhasilan yang diukur dari berapa jumlah atau apa jenis mobil yang dimiliki.

Kalau kemudian ada yang beragumen bahwa apa yang terjadi di Jakarta lebih dikarenakan belum adanya fasilitas transportasi umum yang memadai sehingga masih banyaknya pilihan warga Jakarta jatuh pada penggunaan mobil pribadi, maka pertanyaan lanjut yang kemudian muncul adalah, apakah warga Jakarta yang memiliki mobil kemudian akan beralih menggunakan fasilitas transportasi umum bila fasilitasnya sudah memadai?

Saya sedikit skeptis akan hal tersebut dikarenakan budaya yang terlanjur terbentuk yaitu dengan mengkaitkan status sosial seseorang dengan isu kepemilikan. Saat ini pemerintah DKI Jakarta mencoba melakukan terobosan atas kebuntuan masalah transportasi dan sedikit berkait dengan isu perubahan iklim melalui pengadaan fasilitas jalur sepeda di di Jakarta.

Terobosan ini bisa dikatakan ironis karena seperti diberitakan di Kompas pada 1 Januari 2009, bahwa jalur sepeda nantinya tidak akan dicampur dengan jalur kendaraan biasa (regular) tetapi menggunakan trotoar yang digunakan pejalan kaki. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya bahkan menyatakan bahwa “Jalur sepeda tidak bisa menggunakan badan jalan mengingat jalannya terbatas dan sudah terlalu macet. Itu sebabnya, satu-satunya cara yang memungkinkan agar jalur sepeda bisa terwujud, yakni dengan menggunakan fasilitas pejalan kaki.”

Perspektif di atas makin menguatkan asumsi saya bahwa cara yang digunakan untuk mengatasi masalah kemacetan dan polusi di Jakarta dengan bersepeda hanya akan “menyita” ruang pejalan kaki yang sudah sangat terbatas. Saya tidak bisa memahami alasan apa yang melatarbelakangi pemerintah mengorbankan hak pejalan kaki dan bukannya mengambil sedikit ruang yang selama ini digunakan oleh mobil pribadi. Apa karena pilihan akan jenis transportasi masih dirasa berpengaruh pada status soial di masyarakat? Benarkah mereka yang bermobil memiliki status sosial lebih tinggi dibandingkan pejalan kaki?. ***